SEJARAH PATOLOGI SOSIAL
PENGERTIAN PATOLOGI SOSIAL
LATAR BELAKANG PATOLOGI SOSIAL
SEJARAH PATOLOGI SOSIAL
di bawakan oleh : Erine Nur Maulidya, S.Sos.,M.Pd
Pendahuluan
Patologi Sosial sebagai ilmu pengetahuan dan menjadi mata kuliah wajib bagi prodi sosiologi Agama UIN Raden Intan Lampung Mata kuliah ini membekali mahasiswa tentang pengertian,
latar belakang Patologi Sosial, Teori-Teori Patologi Sosial, bentuk-bentuk patologi
sosial. Melalui kuliah ini mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan yang memadai tentang gejala sosial dengan memahami patologi sosial, diharapkan lulusan memiliki
ketrampilan memecahkan masalah penyakit masyarakat secara konseptual, dan
memiliki sikap peduli terhadap masalah yang berkembang dalam masyarakat
sehingga memberikan konstribusi yang signifikan untuk menjadi peneliti, ilmuan sosial, sosiolog, bidang penyuluhan yang profesional dan lainnya. Perkuliahan
meliputi tatap muka, tugas terstruktur, tugas mandiri, serta ujian.
A. Pengertian Patologi Sosial
Pada awal ke-19 dan awal abad 20-an, para
sosilog mendefinisikan patologi social sebagai semua tingkah laku yang
bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas local, pola kesederhanaan,
moral, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin,
kebaikan, dan hokum formal. Secara etimologis, kata patologi berasal dari kata
Pathos yang berarti disease/penderitaan/penyakit dan Logos yang berarti
berbicara tentang/ilmu. Jadi, patologi adalah ilmu yang membicarakan tentang
penyakit atau ilmu tentang penyakit.[1] Madsud dari pengertian diatas bahwa
patologi adalah ilmu yang membicarakan tentang asal usul dan sifat-sifatnya
penyakit. Konsep ini bermula dari pengertian penyakit di bidang ilmu kedokteran
dan biologi yang kemudian diberlakukan pula untuk masyarakat karena menurut
penulis google bahwa masyarakat itu tidak ada bedanya dengan organisme atau
biologi sehingga dalam masyarakatpun dikenal dengan konsep penyakit. Sedangkan
kata sosial adalah tempat atau wadah pergaulan hidup antar manusia yang
perwujudannya berupa kelompok manusia atau organisasi yakni individu atau
manusia yang berinteraksi / berhubungan secara timbal balik bukan manusia atau
manusia dalam arti fisik. Tetapi, dalam arti yang lebih luas yaitu comunity
atau masyarakat. Maka pengertian dari patologi social adalah ilmu tentang
gejala-gejala sosial yang dianggap “sakit” disebabkan oleh faktor-faktor sosial atau Ilmu
tentang asal usul dan sifat-sifatnya, penyakit yang berhubungan dengan hakekat
adanya mnusia dalam hidup masyarakat. Sementara itu menurut teri anomi bahwa
patologi sosial adalah suatu gejala dimana tidak ada persesuaian antara
berbagai unsur dari suatu keseluruhan, sehingga dapat membahayakan kehidupan
kelompok, atau yang sangat merintangi pemuasan keinginan fundamental dari
anggota anggotanya, akibatnya pengikatan social patah sama sekali. ( Koe soe
khiam. 1963 ).
B. Sejarah dan latar belakang Patologi Sosial
Manusia sebagai makhluk yang cenderung selalu
ingin memenuhi kebutuhan hidupnya telah menghasilkan teknologi yang berkembang
sangat pesat sehingga melahirkan masyarakat modern yang serba kompleks, sebagai
produk dari kemajuan teknologi, mekanisasi, industrialisasi, dan urbanisasi,
dll.[2] Hal ini disamping mampu memberikan berbagai alternative kemudahan bagi
kehidupan manusia juga dapat menimbulkan hal-hal yang berakibat negatif kepada
manusia dan kemanusiaan itu sendiri yang biasa disebut masalah sosial. Adanya
revolusi industri Menunjukan betapa cepatnya perkembangan ilmu-ilmu alam dan
eksakta yang tidak seimbang dengan berkembangnya ilmu-ilmu sosial telah
menimbulkan berbagai kesulitan yang nyaris dapat menghancurkan umat manusia.
Misalnya, Pemkaian mesin-mesin industri di pabrik-pabrik, mengubah cara bekerja
manusia yang dulu memakai banyak tenaga manusia sekarang diperkecil, terjadinya
pemecatan buruh sehingga pengangguran meningkat (terutama tenaga kerja yang
tidak terampil), dengan timbulnya kota-kota industri cenderung melahirkan
terjadinya urbanisasi besar-besaran. Penduduk desa yang tidak terampil dibidang
industri mengalir ke kota-kota industri, jumlah pengangguran di kota semakin
besar, adanya kecenderungan pengusaha lebih menyukai tenaga kerja wanita dan
anak-anak (lebih murah dan lebih rendah upahnya). Pada akhirnya, keadaan ini
semakin menambah banyaknya masalah kemasyarakatan (social problem) terutama
pada buruh rendah yang berkaitan dengan kebutuhan sandang pangannya seperti,
perumahan, pendidikan, perlindungan hokum, kesejahteraan social, dll. Kesulitan
mengadakan adaptasi dan adjustment menyebabkan kebingungan, kecemasan, dan
konflik-konflik. Baik yang bersifat internal dalam batinnya sendiri maupun
bersifat terbuka atau eksternalnya sehingga manusia cenderung banyak melakukan
pola tingkah laku yang menyimpang dari pola yang umum dan melkuikan sesuatu
apapun demukepentingannya sendiri bahkan cenderung dapat merugikan orang lain.
Sejarah mencatat bahwa orang menyebut suatu
peristiwa sebagai penyakit social murni dengan ukuran moralistic. Sehiongga apa
yang dinamakan dengan kemiskinan, pelacuran, alkoholisme, perjudian, dsb adalah
sebagai gejala penyuakit social yang harus segera dihilangkan dimuka bumi.
Kemudian pada awal abad 19-an sampai awal abad 20-an, para sosiolog
mendefinisikan yang sedikit berbeda antara patologi social dan masalah
social[3].
Masalahnya adalah kapan kita berhak menyebutkan
peristiwa itu sebagai gejala patologis atau sebagai masalah social? Menurut
kartini dalam bukunya “patologi social” menyatakan bahwa orang yang dianggap kompeten
dalam menilai tingkah laku orang lain adalah pejabat, politisi, pengacara,
hakim, polisi, dokter, rohaniawan, dan kaum ilmuan dibidang social. Sekalipun
adakalanya mereka membuat kekeliruan dalam membuat analisis dan penilaian
tehadap gejala social, tetapi pada umumnya mereka dianggap mempunyai peranan
menentukan dalam memastikan baik buruknya pola tingkah laku masyarakat. Mereka
juga berhak menunjuk aspek-aspek kehidupan social yang harus atau perlu diubah
dan diperbaiki.
Ada orang yang berpendapat bahwa pertmbangan
nilai (value, judgement, mengenai baik dan buruk) sebenarnya bertentangan
dengan ilmu pengetahuan yang objektif sebab penilaian itu sifatnya sangat
subjektif. Larena itu, ilmu pengetahuan murni harus meninggalkan
generalisasi-generalisasi etis dan penilaian etis (susila, baik dan buruk). Sebaliknya
kelompok lain berpendapat bahwa dalam kehidupan sehari-hari, manusia dan kaum
ilmuan tidak mungkin tidak menggunakan pertimbnagan nilai sebab opini mereka
selalu saja merupakan keputusan yang dimuati dengan penilaian-penilaian
tertentu.
Untuk menjawab dua pendirian yang kontroversial
tersebut, kita dapat meninjau kembali masalah ini secara mendalam dari beberapa
point yang disebutkan oleh Kartini Kartono dalam bukunya yang berjuduk Patologi
social, sebagai berikut:
ilmu pongetahuan itu sendiri selalu mengandung
nilai-nilai tertentu. Hal ini dikarenakan ilmu pengetahuan menyangkut masalah
mempertanyakan dan memecahkan lesulitan hidup secara sistematis selalu dengan
jalan menggunakan metode dan teknik-teknik yang berguna dan bernilai. Disebut
bernilai karena dapat memenuhi kebutuhan manusiawi yang universal ini, baik
yang individual maupun social sifatnya, selalu diarahkan untuk mencapai
tujuan-tujuan yang bernilai.
ada keyakinan etis pada diri manusia bahwa
penggunaan teknologi dan ilmu pengetahuan modern untuk menguasai alam
(kosmos,jagad) sangatlah diperlukan demi kesejahteraan dan pemuasan kebutuhan
hidup pada umumnya. Jadi ilmu pengetahuan dengan sendirinya memiliki system
nilai. Lagi pula kaum ilmuan selalu saja memilih dan mengembangkan usaha/aktivitas
yang menyangkut kepentingan orang banyak. jadi memilih masalah dan usaha yang
mempunyai nilai praktis.
falsafah yuang demokratis sebagaimana tercantum
dalam pancasila menyatakan bahwa baik individu maupun kelompok dalam masyarakat
Indonesia, pasti mampu memformulasikan serta menentukan system nilai
masing-masing dan sanggup menentukan tujuan serta sasaran yang bernilai bagi
hidupnya.
Seperti apa yang dikatakan george lundberg salah
seoreang tokoh sosiolog yang dianggap dominan terhadap aliran neo-positivisme
dalam sosiologi menyatakan bahwa ilmu peneteahuan itu bersifat otoriter, karena
itu ilmu pengetahuan mengandung dan harus memilki moralitas ilmiah atau hokum
moral yang conform dan seimbang dengan hokum alam. Dan diperkuat oleh C.C.
North, seorang sosiolog lain dalam bukunya Soial Problems and Social Planning,
menyatakan bahwa dalam usaha pencapaian tujuan dan sasaran hidup yang bernilai
bagi satu kebudayaan atau satu masyarakat, harus disertakan etik social guna
menentukan cara pencapaian sasaran tadi. Jadi, cara atau metode pencapaian itu
secara etis-susila harus bisa dipertanggungjawabkan[4] sebab manusia normal
dibekali alam dengan budidaya dan hati nurani sehingga ia dianggap mampu
menilai baik dan buruknya setiap peristiwa.
Adapun Istilah / konsep lain untuk patologi
social adalah, Masalah social, disorganisasi sosial / social disorganization /
disintegrasi social, sosial maladjustment, Sociopathic, Abnormal, Sociatri.
Tingkah laku sosiopatik jika diselidiki melalui
pendekatan (approach), sebagai berikut:
1) Approach Biologis
Pendekatan biologis tentang tingkahlaku sosiopatik dalam biologi biasanya terfokus pada bagian genetik.
Patologi itu menurun melalui gen / plasma
pembawa sifat di dalam keturunan, kombinasi dari gen-gen atau tidak adanya
gen-gen tersebut
Ada pewaris umum melalui keturenan yang
menunjukkan tendesi untuk berkembang kearah pathologis (tipe kecenderungan yang
luaar biasa abnormal)
Melaui pewarisan dalam bentuk konstitusi yang
lemah, yang akan berkembang kearah tingkahlaku sosiopatik.
Bentuk tingkahlaku yang menyimpang secara sosial
yang disebabkan oleh ketiga hal tersebut diatas dan ditolak oleh umum seperti:
homoseksualitas, alkoholistik, gangguan mental, dll.
2) Approach Psychologist dan Psychiatris
a) Pendekatan Psikologis
Menerangkan tingkahlaku sosiopatik berdasarkan
teori intelegensi, sehingga individu melanggar norma-norma sosial yang ada
antara lain karena faktor-faktor: intelegensi, sifat-sifat kepribadian, proses
berfikir, motivasi, sifat hidup yang keliru, internalisasi yang salah.
b) Pendekatan Psychiatris
Berdasarkan teori konflik emosional dan
kecenderungan psikopatologi yang ada di balik tingkahlaku menyimpang
c) Approach Sosiologis
Penyebab tingkahlaku sosiopatik adalah murni
sosiologis yaitu tingkahlaku yang berbeda dan menyimpang dari kebiasaan suatu
norma umum yang pada suatu tempat dan waktu tertentu sangat ditentang atau
menimbulkan akibat reaksi sosial “tidak setuju”. Reaksi dari masyarakat antara lain berupa,
hukuman, segregrasi (pengucilan / pengasingan), pengucilan, Contoh: mafia
(komunitas mafia dengan perilaku pengedar narkoba)
Menurut St. Yembiarto (1981) bahwa studi
patologi social memilki fase-fase tersendiri[5]. Adapun perkembangan patologi
sosial ada melalui tiga fase,
Fase masalah sosial (social problem)
Pada fase ini menjadi penyelidikan patisos
action masalah-masalah sosial seperti pengangguran, pelacuran, kejahatan,
masalah penduduk, dst
Fase disorganisasi sosial
Pada fase ini menjadi objek penyelidikan peksos
adalah disorganisasi sosial, fase ini merupakan koreksi dan perkembangan dan
fase masalah sosial
Fase sistematik
Fase ini merupakan perkembangan dari dua fase
sebelumnya. Pada fase ini patsos berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang
memiliki sistem yang bulat.
Penutup
I.
Skema Perkuliahan Semester ganjil Tahun 2020
TM |
Kompetensi Dasar |
Materi |
Kegiatan
Pembelajaran |
1 |
Memahami Orientasi Mata
Kuliah |
1.
Silabus 2.
Kontrak kuliah 3.
Pengantar Materi |
Tanya jawab |
2-3 |
Memahami konsep patologi sosial dan
faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya penyakit sosial |
1. Pengertian konsep
patologi sosial, masalah-masalah
sosial, penyakit sosial, deviasi, deferensiasi sosial 2. Faktor-faktor
penyebab patologi sosial |
GoogleClass |
4-5 |
Menganalisis
perspektif patologi sosial menurut para ahli |
1.
Teori Patologi
Sosial 2.
Individu Sosiopatik 3.
Teori interaksionis 4. Teori cultural
lag |
Google Class /
Tugas |
6 |
Menganalisis masalah
sosial dan disorganisasi sosial |
1. Pendekatan
terhadap tingkah laku Sosiopatik 2. Faktor-faktor penyebab disorganisasi sosial |
Google Class/ Tugas |
7 |
Menganalisis aspek tingkah
laku yang menyimpang |
1.
Deviasi individual 2. Deviasi situasional 3.
Deviasi sistematik |
Google Class dan Google Meet/ Zoom |
UJIAN TENGAH SEMESTER / Suport Google Foam |
|||
9 |
Menganalisis bentuk-
bentuk patologi sosial yang terjadi di Indonesia |
Korupsi 1.
Definisi dan gejala-gejala korupsi 2. Korupsi dan Modernisasi 3. Praktik-praktik
korupsi di Indonesia 4.
Penanggulangan
Korupsi |
Diskusi Google Class/ Rivew Studi Kasus |
10 |
Menganalisis bentuk- bentuk patologi sosial
yang terjadi di Indonesia |
Kriminalitas 1.
Definisi Kejahatan 2.
Manusia, kriminalitas dan kriminologi 3.
Fungsi dan disfungsi kejahatan 4.
Penanggulangan tindak kriminal |
Diskusi Google Class/ Tugas Analisis |
11-12 |
Menganalisis bentuk-
bentuk patologi sosial yang terjadi di Indonesia |
Kenakalan Remaja,
Prostitusi, Narkoba 1. Definisi kenakalan
remaja, prostitusi |
Diskusi Google Class/ Tugas Analisis |
|
|
2.
Faktor-faktor penyebab 3.
Jenis kenakalan remaja, prostitusi 4. Penanggulangan
kenakalan remaja, prostitusi, narkoba |
|
13-14 |
Menganalisis bentuk-
bentuk patologi sosial yang terjadi di Indonesia |
Mental
Disorder 1.
Definisi Mental
Disorder 2. Masyarakat Modern
dan Mental Disorder 3.
Teori Mental Disorder 4. Faktor-faktor
penyebab Mental Disorder 5.
Penanggulangan Mental Disorder |
Google
Class/ Diskusi |
15 |
Refleksi
Perkuliahan |
|
Zoom/ Google Meet/Google Class |
16 |
UJIAN AKHIR SEMESTER Suport Google Class |
II.
Komponen Penilaian
No |
Komponen Penilaian |
Bobot
(%) |
1 |
Kehadiran, sikap, perilaku |
10 |
2 |
Tugas, diskusi |
20 |
3 |
Ujian tengah semester |
30 |
4 |
Ujian akhir semester |
40 |
Jumlah |
100 |
Refrensi :
[1]
http://psynetpreneur.blogspot.com/2008/08/patologi-sosial.html
[2] Kartini Kartono, Patologi social, PT. RajaGrafindo Persada:Jakarta, 2005. hal.V
[3] Lihat hal.2, Kartini Kartono, Patologi social
[4] Kartini Kartono, Patologi social, PT.
RajaGrafindo Persada:Jakarta, 2005. hal.4
makasih buuu,,,membantu banget
BalasHapus