Senin, 05 Oktober 2020

SEJARAH PATOLOGI SOSIAL





SEJARAH PATOLOGI SOSIAL

PENGERTIAN PATOLOGI SOSIAL

LATAR BELAKANG PATOLOGI SOSIAL

SEJARAH PATOLOGI SOSIAL

 

di bawakan oleh : Erine Nur Maulidya, S.Sos.,M.Pd



Pendahuluan

Patologi Sosial sebagai ilmu pengetahuan dan menjadi mata kuliah wajib bagi prodi sosiologi Agama UIN Raden Intan Lampung Mata kuliah ini membekali mahasiswa tentang pengertian, latar belakang Patologi Sosial, Teori-Teori Patologi Sosial, bentuk-bentuk patologi sosial. Melalui kuliah ini mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan yang  memadai tentang gejala sosial dengan memahami patologi sosial, diharapkan lulusan memiliki ketrampilan memecahkan masalah penyakit masyarakat secara konseptual, dan memiliki sikap peduli terhadap masalah yang berkembang dalam masyarakat sehingga memberikan konstribusi yang signifikan untuk menjadi peneliti, ilmuan sosial, sosiolog, bidang penyuluhan yang profesional dan lainnya. Perkuliahan meliputi tatap muka, tugas terstruktur, tugas mandiri, serta ujian.
 

A. Pengertian Patologi Sosial

Pada awal ke-19 dan awal abad 20-an, para sosilog mendefinisikan patologi social sebagai semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas local, pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin, kebaikan, dan hokum formal. Secara etimologis, kata patologi berasal dari kata Pathos yang berarti disease/penderitaan/penyakit dan Logos yang berarti berbicara tentang/ilmu. Jadi, patologi adalah ilmu yang membicarakan tentang penyakit atau ilmu tentang penyakit.[1] Madsud dari pengertian diatas bahwa patologi adalah ilmu yang membicarakan tentang asal usul dan sifat-sifatnya penyakit. Konsep ini bermula dari pengertian penyakit di bidang ilmu kedokteran dan biologi yang kemudian diberlakukan pula untuk masyarakat karena menurut penulis google bahwa masyarakat itu tidak ada bedanya dengan organisme atau biologi sehingga dalam masyarakatpun dikenal dengan konsep penyakit. Sedangkan kata sosial adalah tempat atau wadah pergaulan hidup antar manusia yang perwujudannya berupa kelompok manusia atau organisasi yakni individu atau manusia yang berinteraksi / berhubungan secara timbal balik bukan manusia atau manusia dalam arti fisik. Tetapi, dalam arti yang lebih luas yaitu comunity atau masyarakat. Maka pengertian dari patologi social adalah ilmu tentang gejala-gejala sosial yang dianggap sakit disebabkan oleh faktor-faktor sosial atau Ilmu tentang asal usul dan sifat-sifatnya, penyakit yang berhubungan dengan hakekat adanya mnusia dalam hidup masyarakat. Sementara itu menurut teri anomi bahwa patologi sosial adalah suatu gejala dimana tidak ada persesuaian antara berbagai unsur dari suatu keseluruhan, sehingga dapat membahayakan kehidupan kelompok, atau yang sangat merintangi pemuasan keinginan fundamental dari anggota anggotanya, akibatnya pengikatan social patah sama sekali. ( Koe soe khiam. 1963 ).

 

B. Sejarah dan latar belakang Patologi Sosial

Manusia sebagai makhluk yang cenderung selalu ingin memenuhi kebutuhan hidupnya telah menghasilkan teknologi yang berkembang sangat pesat sehingga melahirkan masyarakat modern yang serba kompleks, sebagai produk dari kemajuan teknologi, mekanisasi, industrialisasi, dan urbanisasi, dll.[2] Hal ini disamping mampu memberikan berbagai alternative kemudahan bagi kehidupan manusia juga dapat menimbulkan hal-hal yang berakibat negatif kepada manusia dan kemanusiaan itu sendiri yang biasa disebut masalah sosial. Adanya revolusi industri Menunjukan betapa cepatnya perkembangan ilmu-ilmu alam dan eksakta yang tidak seimbang dengan berkembangnya ilmu-ilmu sosial telah menimbulkan berbagai kesulitan yang nyaris dapat menghancurkan umat manusia. Misalnya, Pemkaian mesin-mesin industri di pabrik-pabrik, mengubah cara bekerja manusia yang dulu memakai banyak tenaga manusia sekarang diperkecil, terjadinya pemecatan buruh sehingga pengangguran meningkat (terutama tenaga kerja yang tidak terampil), dengan timbulnya kota-kota industri cenderung melahirkan terjadinya urbanisasi besar-besaran. Penduduk desa yang tidak terampil dibidang industri mengalir ke kota-kota industri, jumlah pengangguran di kota semakin besar, adanya kecenderungan pengusaha lebih menyukai tenaga kerja wanita dan anak-anak (lebih murah dan lebih rendah upahnya). Pada akhirnya, keadaan ini semakin menambah banyaknya masalah kemasyarakatan (social problem) terutama pada buruh rendah yang berkaitan dengan kebutuhan sandang pangannya seperti, perumahan, pendidikan, perlindungan hokum, kesejahteraan social, dll. Kesulitan mengadakan adaptasi dan adjustment menyebabkan kebingungan, kecemasan, dan konflik-konflik. Baik yang bersifat internal dalam batinnya sendiri maupun bersifat terbuka atau eksternalnya sehingga manusia cenderung banyak melakukan pola tingkah laku yang menyimpang dari pola yang umum dan melkuikan sesuatu apapun demukepentingannya sendiri bahkan cenderung dapat merugikan orang lain.

 

Sejarah mencatat bahwa orang menyebut suatu peristiwa sebagai penyakit social murni dengan ukuran moralistic. Sehiongga apa yang dinamakan dengan kemiskinan, pelacuran, alkoholisme, perjudian, dsb adalah sebagai gejala penyuakit social yang harus segera dihilangkan dimuka bumi. Kemudian pada awal abad 19-an sampai awal abad 20-an, para sosiolog mendefinisikan yang sedikit berbeda antara patologi social dan masalah social[3].

 

Masalahnya adalah kapan kita berhak menyebutkan peristiwa itu sebagai gejala patologis atau sebagai masalah social? Menurut kartini dalam bukunya patologi social menyatakan bahwa orang yang dianggap kompeten dalam menilai tingkah laku orang lain adalah pejabat, politisi, pengacara, hakim, polisi, dokter, rohaniawan, dan kaum ilmuan dibidang social. Sekalipun adakalanya mereka membuat kekeliruan dalam membuat analisis dan penilaian tehadap gejala social, tetapi pada umumnya mereka dianggap mempunyai peranan menentukan dalam memastikan baik buruknya pola tingkah laku masyarakat. Mereka juga berhak menunjuk aspek-aspek kehidupan social yang harus atau perlu diubah dan diperbaiki.

 

Ada orang yang berpendapat bahwa pertmbangan nilai (value, judgement, mengenai baik dan buruk) sebenarnya bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang objektif sebab penilaian itu sifatnya sangat subjektif. Larena itu, ilmu pengetahuan murni harus meninggalkan generalisasi-generalisasi etis dan penilaian etis (susila, baik dan buruk). Sebaliknya kelompok lain berpendapat bahwa dalam kehidupan sehari-hari, manusia dan kaum ilmuan tidak mungkin tidak menggunakan pertimbnagan nilai sebab opini mereka selalu saja merupakan keputusan yang dimuati dengan penilaian-penilaian tertentu.

 

Untuk menjawab dua pendirian yang kontroversial tersebut, kita dapat meninjau kembali masalah ini secara mendalam dari beberapa point yang disebutkan oleh Kartini Kartono dalam bukunya yang berjuduk Patologi social, sebagai berikut:

 

ilmu pongetahuan itu sendiri selalu mengandung nilai-nilai tertentu. Hal ini dikarenakan ilmu pengetahuan menyangkut masalah mempertanyakan dan memecahkan lesulitan hidup secara sistematis selalu dengan jalan menggunakan metode dan teknik-teknik yang berguna dan bernilai. Disebut bernilai karena dapat memenuhi kebutuhan manusiawi yang universal ini, baik yang individual maupun social sifatnya, selalu diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang bernilai.

ada keyakinan etis pada diri manusia bahwa penggunaan teknologi dan ilmu pengetahuan modern untuk menguasai alam (kosmos,jagad) sangatlah diperlukan demi kesejahteraan dan pemuasan kebutuhan hidup pada umumnya. Jadi ilmu pengetahuan dengan sendirinya memiliki system nilai. Lagi pula kaum ilmuan selalu saja memilih dan mengembangkan usaha/aktivitas yang menyangkut kepentingan orang banyak. jadi memilih masalah dan usaha yang mempunyai nilai praktis.

falsafah yuang demokratis sebagaimana tercantum dalam pancasila menyatakan bahwa baik individu maupun kelompok dalam masyarakat Indonesia, pasti mampu memformulasikan serta menentukan system nilai masing-masing dan sanggup menentukan tujuan serta sasaran yang bernilai bagi hidupnya.

Seperti apa yang dikatakan george lundberg salah seoreang tokoh sosiolog yang dianggap dominan terhadap aliran neo-positivisme dalam sosiologi menyatakan bahwa ilmu peneteahuan itu bersifat otoriter, karena itu ilmu pengetahuan mengandung dan harus memilki moralitas ilmiah atau hokum moral yang conform dan seimbang dengan hokum alam. Dan diperkuat oleh C.C. North, seorang sosiolog lain dalam bukunya Soial Problems and Social Planning, menyatakan bahwa dalam usaha pencapaian tujuan dan sasaran hidup yang bernilai bagi satu kebudayaan atau satu masyarakat, harus disertakan etik social guna menentukan cara pencapaian sasaran tadi. Jadi, cara atau metode pencapaian itu secara etis-susila harus bisa dipertanggungjawabkan[4] sebab manusia normal dibekali alam dengan budidaya dan hati nurani sehingga ia dianggap mampu menilai baik dan buruknya setiap peristiwa.

 

Adapun Istilah / konsep lain untuk patologi social adalah, Masalah social, disorganisasi sosial / social disorganization / disintegrasi social, sosial maladjustment, Sociopathic, Abnormal, Sociatri.

 

Tingkah laku sosiopatik jika diselidiki melalui pendekatan (approach), sebagai berikut:

 

1) Approach Biologis

Pendekatan biologis tentang tingkahlaku sosiopatik dalam biologi biasanya terfokus pada bagian genetik.

Patologi itu menurun melalui gen / plasma pembawa sifat di dalam keturunan, kombinasi dari gen-gen atau tidak adanya gen-gen tersebut

Ada pewaris umum melalui keturenan yang menunjukkan tendesi untuk berkembang kearah pathologis (tipe kecenderungan yang luaar biasa abnormal)

Melaui pewarisan dalam bentuk konstitusi yang lemah, yang akan berkembang kearah tingkahlaku sosiopatik.

Bentuk tingkahlaku yang menyimpang secara sosial yang disebabkan oleh ketiga hal tersebut diatas dan ditolak oleh umum seperti: homoseksualitas, alkoholistik, gangguan mental, dll.

 

2) Approach Psychologist dan Psychiatris

 

a) Pendekatan Psikologis

Menerangkan tingkahlaku sosiopatik berdasarkan teori intelegensi, sehingga individu melanggar norma-norma sosial yang ada antara lain karena faktor-faktor: intelegensi, sifat-sifat kepribadian, proses berfikir, motivasi, sifat hidup yang keliru, internalisasi yang salah.

 

b) Pendekatan Psychiatris

Berdasarkan teori konflik emosional dan kecenderungan psikopatologi yang ada di balik tingkahlaku menyimpang

 

c) Approach Sosiologis

Penyebab tingkahlaku sosiopatik adalah murni sosiologis yaitu tingkahlaku yang berbeda dan menyimpang dari kebiasaan suatu norma umum yang pada suatu tempat dan waktu tertentu sangat ditentang atau menimbulkan akibat reaksi sosial tidak setuju. Reaksi dari masyarakat antara lain berupa, hukuman, segregrasi (pengucilan / pengasingan), pengucilan, Contoh: mafia (komunitas mafia dengan perilaku pengedar narkoba)

 

Menurut St. Yembiarto (1981) bahwa studi patologi social memilki fase-fase tersendiri[5]. Adapun perkembangan patologi sosial ada melalui tiga fase,

 

Fase masalah sosial (social problem)

Pada fase ini menjadi penyelidikan patisos action masalah-masalah sosial seperti pengangguran, pelacuran, kejahatan, masalah penduduk, dst

 

Fase disorganisasi sosial

Pada fase ini menjadi objek penyelidikan peksos adalah disorganisasi sosial, fase ini merupakan koreksi dan perkembangan dan fase masalah sosial

 

Fase sistematik

Fase ini merupakan perkembangan dari dua fase sebelumnya. Pada fase ini patsos berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang memiliki sistem yang bulat.

 

Penutup

I.        Skema Perkuliahan Semester ganjil Tahun 2020

TM

Kompetensi Dasar

Materi

Kegiatan Pembelajaran

 

1

Memahami Orientasi Mata Kuliah

1.      Silabus

2.      Kontrak kuliah

3.      Pengantar Materi

 

Tanya jawab
VC ZOOM/ Google Meet

 

 

2-3

Memahami konsep patologi sosial dan faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya penyakit

sosial

1.      Pengertian konsep patologi sosial, masalah-masalah sosial, penyakit sosial, deviasi, deferensiasi sosial

2.      Faktor-faktor penyebab patologi sosial

 

 

GoogleClass

 

 

4-5

 

Menganalisis perspektif patologi sosial menurut para ahli

 

1.      Teori Patologi Sosial

2.      Individu Sosiopatik

3.      Teori interaksionis

4.      Teori cultural lag

 

 

Google Class / Tugas

 

6

 

Menganalisis masalah sosial dan disorganisasi sosial

1.    Pendekatan terhadap tingkah laku Sosiopatik

2.    Faktor-faktor penyebab disorganisasi sosial

Google Class/ Tugas

 

7

Menganalisis aspek tingkah laku yang menyimpang

1.      Deviasi individual

2.      Deviasi situasional

3.      Deviasi sistematik

Google Class dan Google Meet/ Zoom

UJIAN TENGAH SEMESTER / Suport Google Foam

 

 

 

9

 

Menganalisis bentuk- bentuk patologi sosial yang terjadi di Indonesia

Korupsi

1.    Definisi dan gejala-gejala korupsi

2.    Korupsi dan Modernisasi

3.    Praktik-praktik korupsi di Indonesia

4.    Penanggulangan Korupsi

 

 

 

Diskusi Google Class/ Rivew Studi Kasus

 

 

 

10

 

Menganalisis bentuk- bentuk patologi sosial yang terjadi di Indonesia

Kriminalitas

1.        Definisi Kejahatan

2.        Manusia, kriminalitas dan kriminologi

3.        Fungsi dan disfungsi kejahatan

4.        Penanggulangan tindak kriminal

 

 

 

Diskusi

Google Class/ Tugas Analisis

 

11-12

Menganalisis bentuk- bentuk patologi sosial yang terjadi di Indonesia

Kenakalan Remaja, Prostitusi, Narkoba

1. Definisi kenakalan remaja, prostitusi

 

Diskusi

Google Class/ Tugas Analisis


 

 

 

2.   Faktor-faktor penyebab

3.   Jenis kenakalan remaja, prostitusi

4.   Penanggulangan kenakalan remaja, prostitusi, narkoba

 

 

 

 

13-14

 

 

Menganalisis bentuk- bentuk patologi sosial yang terjadi di Indonesia

Mental Disorder

1.    Definisi Mental Disorder

2.    Masyarakat Modern dan Mental Disorder

3.    Teori Mental Disorder

4.    Faktor-faktor penyebab Mental Disorder

5.    Penanggulangan Mental Disorder

 

 

 

Google Class/

Diskusi

15

Refleksi Perkuliahan

 

Zoom/ Google Meet/Google Class

16

UJIAN AKHIR SEMESTER Suport Google Class

 

II.     Komponen Penilaian

No

Komponen Penilaian

Bobot (%)

1

Kehadiran, sikap, perilaku

10

2

Tugas, diskusi

20

3

Ujian tengah semester

30

4

Ujian akhir semester

40

Jumlah

100

 

 

 Refrensi :

                                                          

[1] http://psynetpreneur.blogspot.com/2008/08/patologi-sosial.html

[2] Kartini Kartono, Patologi social, PT. RajaGrafindo Persada:Jakarta, 2005. hal.V

[3] Lihat hal.2, Kartini Kartono, Patologi social

[4] Kartini Kartono, Patologi social, PT. RajaGrafindo Persada:Jakarta, 2005. hal.4

 

 

1 komentar:

Mukaddimah Ilmu Sosial

PERKEMBANGAN DAN RUANG LINGKUP SOSIOLOGI

Sosiologi merupakan ilmu yang muncul jauh setelah kehadiran ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Meskipun pertanyaan mengenai perubahan d...

Postingan Populer